Beramal Ikhlas hanya karena Allah Bukan Karena Manusia

Beramal Ikhlas hanya karena Allah semata-mata mengharap ridonya adalah salah satu buah dari keyakinan yang sempurna kepada Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang. Ikhlas adalah soal tauhid kita kepada Allah.Soal Keyakinan, soal kepercayaan. Yaitu dengan percaya akan seruan Allah dan Rasul-Nya. Yakin dan percaya akan Janji-Janji Allah. Yang lain menyebut “tidak ikhlas,” saya lebih memilih menyebut “saking percayanya sama Allah lalu saya melakukannya.” 

Beramal Ikhlas hanya karena Allah

Beramal Ikhlas hanya karena Allah

Yang lain menyebutnya “tidak ikhlas,” saya lebih memilih menyebutnya “berharap sama Allah.” Dan yang lain menyebutnya sebagai pamrih atas ibadah-ibadah yang dilakukan karena dunia, saya lebih kepengen meyakininya sebagai sebuah keutamaan jalan sebab yang memberikan petunjuk adalah Yang Memiliki Dunia yang juga menyuruh kita beribadah.Ikhlas juga mencakup semua ketaatan, ikhlas juga meliputi semua yang Allah kasih kepada kita, ikhlas dalam cinta, dalam iman dan Islam.Agar Ibadah Kita Diterima-Nya.

Ada juga yang mengatakan bahwa arti ikhlas adalah Ketika kitab bisa bersabar pada saat di rendahkan orang lain.Dengan kata lain beramal tidak di landasi karena ke ikhlasan.akan membuat amal tersebut sia-sia.

Seorang ulama yang Bernama  Sufyan AtsTsauri pernah berkata,”Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku,karena begitu seringnya ia berubah-ubah.”

Sesungguhnya Allah Swt hanya menerima ibadah seorang hamba yang benar-benar memurnikan keikhlasan dalam amalnya tersebut, dan ibadah tersebut sesuai dengan tuntunan Rasul-Nya maka Allah tidak akan menerima amalan tersebut! jika amalan tersebut diamalkan tidak seperti apa yang Allah syari’atkan melalui Rasul-Nya, maka amalnya tertolak,hal ini di terangakn dalam Hadits Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima satu amalan kecuali dengan ikhlas dan mengharap wajah-Nya.”

Dalam shalat kita membaca ayat dalam surah Al-Fatihah yang artinya, “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” Dan bukankah dalam shalat kita juga mengucapkan “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, matiku, semuanya hanya untuk Allah?”

Tapi kenyataannya, sangat sulit merealisasikan ikhlas dalam setiap perbuatan kita. Niat segala perbuatan kita ternyata bukan lagi untuk mencari ridha Allah. Tapi niat kita adalah untuk mencapai kepentingan pribadi, dan kepentingan duniawi. Niat Ikhlas ini sering pula disusupi oleh sifat ujub dan riya’. Perbuatan kita lakukan untuk membanggakan diri, dan ingin dipuji oleh manusia. Ya, mencari ridha manusia.

Saya sering menyebut tidak mengapa kita melakukan ibadah dan mengejar apa yang Allah janjikan. Ketika yang lain menamakan pamrih dan atau tidak ikhlas, saya menyebutnya: Iman. Percaya. Karena saya percaya sama apa yang diseru Allah dan Rasul-Nya, lah ya saya kerjakan. 

Ketika Allah dan Rasul-Nya menyuruh dhuha agarrezeki terbuka, dan atau menjanjikan keutamaan dhuha bisa begini dan begitu, ya saya sambut. Saya kerjakan. Sepenuh hati. Ini juga namanya Ikhlas. Bahasa entengnya: Nurut. Tunduk. Kita percaya sama Allah. Masa janji yang dijanjikan oleh Yang Maha Benar kita sia-siakan? Iya gak? Sambut, percaya, yakini, dan jalankan.

Ditulis Oleh: Yusuf Al Gani ( Mahasiswa STEI SEBI )

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel